In literasi informasi

Literasi : Melek Informasi?

Apa itu Literasi?
Kebanyakan orang saat ini memahami literasi itu hanyalah kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis aja. Sebenarnya makna literasi lebih dari itu lho. Literasi itu merupakan kemampuan identifikasi kebutuhan informasi; kemampuan menelusur, mencari dan mengakses informasi secara efektif dan efisien; literasi TIK (ICT Literacy); kemampuan memilah informasi; kemampuan analisa dan evaluasi informasi; dan pemahaman isu hukum dan etik informasi.

Literasi juga mencakup kemampuan untuk mengenali dan memahami informasi yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar) selain tulisan. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi dan menghitung, menggunakan materi cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai bidang.

Seberapa pentingnya kemampuan literasi?
Yang terjadi sekarang ini sebenarnya adalah Information Overload, dimana informasi tersedia sangat besar dan tidak terkelola dengan baik. Meskipun terdapat search engine, tetap aja terjadi masalah pencarian yaitu hasil pencarian yang tidak relevan, dikarenakan sinonim, hasil pencarian besar, ambiguitas, dan style bahasa. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan literasi. Apa jadinya jika kemampuan literasi kita lemah? Kita akan mudah sekali ‘diarahkan’ oleh suatu informasi mengikuti kemauan si penulis. Hal ini sebenarnya dapat dicegah jika kita mau membaca lebih banyak informasi dan memahaminya. Ilmu sejarah, budaya, sastra, ekonomi, sains, teknologi dapat diserap oleh seseorang dari bacaan-bacaan bermutu. Masyarakat yang melek literasi tidak akan mudah terprovokasi oleh konten-konten negatif ataupun berita hoax atau ‘fake news dari informasi yang tersebar luas baik secara digital maupun cetak. Mengapa? Karena mereka telah memiliki pondasi yang kuat yang didapat dari informasi  atau data lain yang mereka dapatkan sebelumnya yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bagaimana cara meningkatkan kemampuan literasi?
Kemampuan literasi seseorang dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan keterampilan dalam membaca. Sebagian orang menganggap sekadar bisa membaca itu sudah cukup. Padahal ‘membaca’ dalam konteks literasi adalah kemampuan memahami isi dari bacaan tersebut. Namun minat baca itu tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Perlu pembelajaran dan pembiasaan sejak dini. Sudah terbukti bahwa anak-anak yang sejak kecil diajarkan untuk membaca (dengan gambar dan meningkat dengan tulisan) akan memiliki kemampuan memahami dan menyerap informasi yang lebih tinggi. Untuk membiasakan membaca, dianjurkan kita membaca minimal satu jam dalam sehari. Sisihkan waktu untuk membaca ya teman-teman. Tumbuhkan rasa ingin tahu atas segala hal (nah rasa disini rasa menumbuhkan minat baca ya teman bukan rasa yang lain. HEHEHE). Bisa dimulai dengan cerita-cerita ringan yang mudah dicerna, buku-buku praktis atau juga buku-buku pengembangan diri. Sedangkan untuk anak-anak usia pra sekolah bisa dimulai dengan kebiasaan orang tua membacakan cerita atau dongeng sebelum tidur. Jadikanlah hal ini sebagai rutinitas yang menyenangkan, baik untuk orang tua maupun untuk si anak. Penelitian membuktikan bahwa kebiasaan ini juga memacu imajinasi dan kreativitas anak. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dapat digiatkan berkunjung ke perpustakaan dengan ditugaskan membaca satu buku per minggu dan kemudian isi buku tersebut diceritakan kembali oleh si anak sesuai intrepretasi dan bahasa si anak.

Persepsi '‘Membaca itu membosankan!’'
Yang biasanya muncul di benak seseorang jika disuruh membaca yaitu membaca itu hal yang membosankan.  Tidak semua orang betah duduk diam berjam-jam melihat tulisan dari sebuah buku dengan ratusan halaman. Mereka lebih suka membaca dari perangkat digital mereka bacaan sepanjang 300-500 kata atau melakukan permainan yang lebih menyenangkan. Membaca bukan merupakan kegiatan yang menghibur bagi sebagian besar orang. Apalagi membaca buku-buku ‘serius’ yang biasanya tebal-tebal. Tapi seperti yang aku utarakan di atas, kegiatan membaca membutuhkan pembiasaan. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sedih nggak sih kalau tahu minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah. Maka dari itu yuk teman-teman kita mulai tingkatkan minat baca kita, karena membaca itu sebenarnya menyenangkan dan mendapatkan banyak manfaat.

Dalih' ‘Aku tidak punya koleksi buku bacaan’'
Kalau punya uang, mending uangnya buat beli makanan atau baju daripada beli buku ya nggak? Nggak apa-apa sih, yang penting kita masih mengenal yang namanya perpustakaan. Pasti kenal dong sama perpustakaan? Orang biasanya langsung malas kalau dengar perpustakaan, hmmmm karena perpustakaan dianggap tempat yang kurang asik dan membosankan. Atau malah ingatnya adegan Rangga dan Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta. Xixixi.
Perpustakaan biasanya memiliki koleksi buku yang lengkap, dari novel sampai karya sastra dalam dan luar negeri. Kadang juga memiliki koleksi komik. Selain itu, ada juga perpustakaan khusus untuk anak-anak, yang biasanya sudah diatur suasananya sehingga menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.  Buku-bukunya pun beragam, dari buku bergambar dimana isinya harus dibantu dibacakan oleh orang tua atau pengasuh si anak sampai buku-buku pengetahuan ringan yang mudah dicerna.
Yuk teman-teman kita mulai kebiasaan membaca dari sekarang! Manfaatnya akan terasa kelak untuk kemajuan diri kita sendiri dan juga negara.
Nah bagi teman-teman yang mau tahu tentang  masyarakat melek informasi atau tentang literasi dapat klik langsung Masyarakat Melek Informasi. Masyarakat Melek Informasi ini merupakan program non-profit yang digagas profesional informasi yang berupaya membantu masyarakat menjadi melek informasi lhooo.

Related Articles

24 comments:

  1. Replies
    1. terima kasih kembali ka ita sudah mengunjungi blog aku

      Delete
  2. Setuju sama kak Desi. Lagipula ayat yang pertama turun di dalam al-Qur`an adalah menyuruh kita untuk membaca (iqra'). Jadi, selain untuk menambah wawasan keilmuan kita, dengan membaca kita juga sekaligus mengamalkan isi yang terkandung di dalam al-Qur`an. Dan membaca pun bukan hanya membaca teks (buku) saja, tetapi juga membaca nonteks.

    BTW, kontennya informatif. Ditunggu konten-konten informatif lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali ka itu, terima kasih atas informasi tambahannya ka:)

      Delete
  3. Enak dah baca blognya kak, bahasanya gampang diserap dan bikin pengen baca terus wkwk, mantap mantap👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas reviewnya, dan jangan lupa baca informasi ter update dari aku yaa ;)

      Delete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. Orang bisa baca itu biasa, tetapi mempunyai niat baca itu baru luar biasa.

    Intinya banyak baca banyak ilmu yang didapat, sehingga kita tidak mudah terprofokasi oleh berita hoax yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.
    Jadi kqlo bicara/ sekedar memberi informasi itu harus berdasarkan data dan fakta yang benar-benar terjadi, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi,pas takarannya sesuai dengan takarannya seperti cinta ku pada mu,.... Wkwkwwhwhwhkwkkw
    Just kiding,... Im so sorry

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah betul sekali apa yang ka asep bilang, disamping banyak membaca diperlukan literasi informasi agar mendaptkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan sesuai fakta yang ada hehe.. terima kasih atas tanggapannya ka asep :)

      Delete
  6. Replies
    1. terima kasih ka fajar sudah membaca postingan aku :D

      Delete
  7. Dalam hal ini literacy membaca perlu dipisahkan dengan literasi informasi. Literasi informasi diartikan sebagai kemampuan seorang individu untuk menentukan topik informasi yang ingin dicari, mencari informasi dengan berbagai sumber, memahami, mengelola, mempresentasikan dan kemudian mengevaluasi. Dalam masyarakat digital native, kemampuan literasi informasi menjadi sangat penting mengingat mereka dihadapkan dengan meledaknya media informasi yang tak terhitung diluar sana. Ledakan ini tentunya membawa jumlah informasi semakin banyak secara kuantitas bukan secara kualitas. Lalu bagaimana menentukan kualitas informasi ? maka dikenalkanlah literasi informasi yang didalamnya membantu individu memahami konteks plagiarisme dalam sebuah karya, hoax, tipe informasi, sumber-sumber informasi yang relevan, kemampuan utk memanfaatkan tools-tools visual utk mempresentasikan informasi, dan parameter utk mengukur informasi yang berkualitas. Meningkatkan kemampuan dalam membaca bukanlah kriteria seorang individu utk meningkatkan literasi melainkan kemampuan mereka untuk memahami model tahapan dari literasi informasi itu sendiri yang didalamnya menguraikan secara detail mengenai bagaimana proses individu mengelola daur hidup informasi. Terdapat berbagai macam model literasi informasi yaitu diantaranya yang terkenal adalah the big6. Dengan memahami model tsb individu akan dibawa kepada keputusan-keputusan yang relevan yang didasarkan pada informasi yang berkualitas pula. Itulah literasi informasi. Smg membantu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mantap sekali, terima kasih atas tanggapan dan tambahan ilmunya ka :D dan terima kasih sudah mengunjungi blog aku ka ..

      Delete
  8. Replies
    1. mantap ilmunya kan ka mega, biar makin mantap baca juga postingan aku yang lainnya ya ka hihi

      Delete
  9. Bermanfaat banget konten blognya 😊 Ku tunggu ya postingan selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas reviewnya ka nungky, kunjungi postingan aku yang lain juga ya ka :)

      Delete
  10. terima kasih atas reviewnya ka agia

    ReplyDelete

Main Menu

Favorite

Seputar Tata Ruang Serta Sarana dan Prasarana Telkom University Open Library

      Mengenai  Telkom University Telkom University merupakan penggabungan dari empat Perguruan Tinggi Swasta, yaitu Institut ...

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *